Coffee Teen

Catatan Interaksi

Sabtu, 13 Januari 2025. 14.30 WIB

Suasana biru terlihat dari luar saat aku pertama kali memarkirkan motorku di sebuah tempat di dalam lorong, entah apa sebutannya untuk sebuah jalan yang bisa dilewati oleh kendaraan roda empat. Lorong? Gang? Entahlah, eits… itu tidak penting. Kembali ketopik, dari luar tampak papan tulis hitam yang bertuliskan ‘Welcome 3rd Annive’ berjajar rapi di depan pintu masuk, berbaris dengan satu pot hitam yang berisi tumbuhan dedaunan berwarna hijau, mungkin bunga atau apa? Tidak tahu. 

Aku melangkah masuk, satu suara menyapa “Selamat datang di Coffee Teen, Mbak.” Aku menoleh dan melempar senyum, lalu mataku memperhatikan seisi kafe. Pojok kanan ditempeli secara bersusun beberapa lukisan cat air pada kertas sketsa. Lukisan ini hampir memenuhi pojok tembok dan yang membuatnya menarik adalah warna-warni dari lukisan yang disusun acak. Bangku-bangku masih tersusun dalam rangkaian yang sama pun meja masih berada di posisi terbalik. “Kita baru buka Mbak, belom dirapiin nih.” Seseorang yang berdiri dari balik meja barista menyahut lagi. 

“Oh gapapa, Kak.” Aku menjawab tanpa menoleh, terkesan tidak sopan tetapi mataku masih ingin menjelajah tiap bagian ruangan ini. Ruangannya berukuran kecil namun juga pas dan nyaman untuk berlama-lama duduk disini.”

“Ini varian matcha series ya, Kak?” mataku menatap tabel menu yang sengaja di cetak warna biru senada dengan nuansa kafe. “Apa yang best dari matcha series?”

“Cobain matcha lychee, Mbak? Rasa matcha-nya yang lembut dipadu padankan dengan lychee yang sepet akan memberi kesan segar di lidah.” 

“Sayangnya aku gak suka matcha, Kak?” Mataku tertarik di satu menu yang aku selalu suka untuk dicoba tiap kali mengunjungi kafe baru. “Signature Teen ini pake gula aren ya, Kak?” 

“Bisa kok Mbak di request pake gula aren.” 

“Oke, aku mau ini.” sambil menunjuk daftar menu. “Kak, semua komposisinya normal.”

“Okey, ditunggu ya Mbak.” Tangan barista yang cekatan meracik kopi yang ia seduh pada gelas unik berbentuk cembung bening, sehingga warna kopi terlihat jelas. Ia juga masih bisa menawarkanku bagian-bagian menarik disini, “Mbak kalo mau melukis boleh di pojok sebelah sana,” dengan gerakan tangan yang menunjuk ke arah yang dituju, “Kalo mau ambil foto atau video juga boleh dan di sebelah sini kita ada kaca untuk foto dengan gaya mirror selfie.” 

Aku mengangguk, tanda mengiyakan apa yang baru saja aku dengar. Beberapa poin yang aku pertimbangkan tiap kali mengunjungi sebuah kafe sudah masuk dalam daftar yang barista tadi sebutkan. Aku suka Coffee Teen, aku akan pertimbangkan untuk datang lagi berkunjung berikutnya, “Ada ruang sholat?” tanyaku.

Dia menunjuk sebuah ruangan, “Ada Mbak, di balik ruang ini ada bilik kecil untuk sholat.”

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pertemuan, kehilangan dan rindu

Apa Judulnya?