Pertemuan, kehilangan dan rindu
Tak akan pernah sampai pada arti kata hadir jika tak menemui kehilangan. Seringkali dilenakan oleh pertemuan yang membuat perpisahan terasa berat. Perpisahan yang datang tidak pada saat yang tepat. Disaat harusnya diri telah bersiap menyediakan bahu yang kuat, hati yang lapang dan mata yang akan terus memandang bahwa hidup terus berjalan apapun keadaannya.
Meski kehilangan menyesakkan dan menyisahkan duka, tetap saja Tuhan Maha Tahu Segalanya yang terbaik bagi hamba-Nya. Boleh saja air mata menangis kepergian tapi tidak untuk menyesali perbuatan. Masa yang berlalu telah terukir menjadi sebuah kenangan yang hangat kala ditatap melalui album foto bahkan video bersuara dan bergambar, kadang sesekali tetesan air hangat menyelinap dari balik mata.
Perjalanan membersamai bukan selamanya, selama masih bersama maka kenang setiap detik pertemuan, setiap inci tatapan lekat serta sentuhan hangat yang didalamnya lalu mengalirlah doa sepanjang tubuh yang menguntai kelangit.
Perasaan resah dan setidak menyenangkan itu akan selalu hadir dalam setiap kebersamaan, namun bukan alasan untuk tidak selalu melapangkan hati dan menyadarkan bahwa ini bukan selamanya. Selama nafas masih hangat berdesah, selama itu pula berkah akan selalu mengalir. Tidak pernah tahu, untaian doa dan sujud panjang mana yang ia haturkan pada penciptanya demi sebuah kebaikan. Kebaikan yang sewaktu-waktu akan ia tinggakan karna akhir dari pertemuan.
Kala kebaikan dari berkah mampu dirasa, maka temui setiap kepulangan yang dirindukan, sembuhkan setiap kepedihan yang menyayat, tenangkan setiap isi kepala yang berantakan, lelapkan setiap kantuk yang singgah, kenyangkan setiap emosi jiwa yang lapar dan haus akan kasih sayang dan peluk.
Tak ada yang lebih indah dan lebih panjang dari tatap sorot matanya, bisikan hatinya dan ucapannya yang meneduhkan. Kala kata kehilangan telah dijumpai maka berbalas kata rindu yang tak akan bertemu obat kalau bukan dengan jumpa. Rindu yang menggetarkan relung jiwa sampai melumpuhkan tulang-tulang, rindu yang tak akan habis hanya dengan berkirim kabar lewat doa dan menyapa pada Tuhan untuk izin dipertemukan kembali.
Pulang,
Tatap lagi mata sayu itu
Peluk lagi tubuh ringkih itu
Bisikkan pada telinganya bahwa "Aku akan selalu ada untukmu"
Pada pagi yang menggoreskan kebahagian
Kini hanya menjadi kenangan baginya
Pada petang yang sebentar
Kini hanya kita yang ia harap untuk ada
Sebelum petang berganti malam
Maka waktu adalah teman setia untuk bersama
Habiskan setiap kebersamaan melalui jemari yang saling bergenggaman
Raga yang tak terpisah satu sama lain
Hari Ke-9 dari 365
-Kutulis
Komentar
Posting Komentar